Perpustakaan: Dapur Peradaban di Era Digital

Table of Contents
Perpustakaan: Dapur Peradaban di Era Digital

BEKASI (NEWS) - Setiap 17 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Buku Nasional. Perayaan ini biasanya ditandai dengan bazar buku, seminar literasi, dan kampanye gemar membaca. Namun, tidak jarang gaungnya berhenti sebagai seremoni tahunan. Setelah acara usai, buku kembali tersimpan di rak, demikian juga semangat membaca perlahan memudar.

Situasi ini mengingatkan kita bahwa persoalan literasi tidak dapat diselesaikan dengan euforia sesaat, tetapi membutuhkan ekosistem yang hidup dan berkelanjutan. Data nasional menunjukkan bahwa persentase penduduk Indonesia yang mengunjungi perpustakaan atau taman bacaan masyarakat masih sangat rendah, yakni sekitar 3,99 persen. Artinya, dari setiap 25 orang, hanya satu yang secara sadar datang ke perpustakaan.

Angka ini sering dipahami sebagai lemahnya budaya baca. Namun, pembacaan terhadap data tersebut perlu dilakukan secara lebih proporsional. Di era digital, masyarakat tidak selalu datang ke gedung perpustakaan untuk memperoleh pengetahuan. Aktivitas membaca telah bergeser ke layar gawai, komputer, dan perangkat digital lainnya.

Transformasi medium membaca ini turut mengubah cara dunia memaknai literasi. Literasi tidak lagi sekadar kemampuan mengenali huruf dan memahami teks cetak, tetapi juga kemampuan menavigasi, mengevaluasi, dan memverifikasi informasi yang beredar di ruang digital.

Perubahan tersebut tercermin dalam perkembangan framework Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang diselenggarakan oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA). Pada PIRLS 2001, literasi membaca hanya diukur berdasarkan kemampuan memahami teks cetak. Pada 2011, penilaian mulai menekankan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Lompatan besar terjadi pada PIRLS 2016 ketika diperkenalkan ePIRLS, yaitu instrumen dari framework yang menilai kemampuan membaca informasi secara daring dan melakukan navigasi digital.

Adapun PIRLS 2026 diproyeksikan berfokus pada future-oriented literacy, yang mencakup multiliterasi, literasi kecerdasan buatan, digital citizenship, dan kemampuan berpikir kritis dalam menilai validitas informasi. Membaca pada era ini bukan sekadar menyerap kata, melainkan menyaring fakta di tengah banjir data dan algoritma.

Perubahan global tersebut menuntut perpustakaan untuk bertransformasi. Perpustakaan tidak cukup menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi harus menjadi pusat pembelajaran, kurasi pengetahuan, dan pengembangan literasi kritis.

Sayangnya, kondisi perpustakaan di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Ketersediaan pustakawan di sekolah dan madrasah sangat terbatas. Tingkat pemenuhan kebutuhan pustakawan sekolah diperkirakan baru sekitar 0,1 persen, sedangkan pada perpustakaan umum sekitar 1,7 persen.

Posting Komentar